Finally, I can watch that Movie. IRON LADY.
Dari referensi beberapa teman, katanya sih film ini bagus, makanya penasaran banget pengen nonton. Akhirnya kesampean juga nonton semalam di PIM 2 sama pacar. Yang berujung si pacar tidur, dan gue tetep asik nonton. Filmnya emang agak membosankan, karena alur ceritanya maju mundur, di tambah lagi film ini emang nggak ada geregetnya sama sekali. Nggak kayak film action atau film horor.
Tapi buat penikmat film kayak gue, film ini sih bagus, apalagi gue pun perempuan. Karena film ini mengisahkan tentang perjuangan perempuan dalam penyetaraan gender.Tentang perdana menteri perempuan pertama di Inggris yang namanya Margareth Thatcher. Waktu kecil dia kerja sebagai pelayan toko di toko ayahnya. Sampai suatu waktu dia keterima di Universitas ternama di Britania Raya.
Gue pun nggak tahu kenapa, apa emang gue yang lagi terlalu emosional, atau emang film ini memang menyedihkan, ada beberapa titik yang bikin gue sampe menitikan air mata pas nonton film ini. Padahal di film ini adegan nangis nya aja cuma satu kali. sedangkan gue nangis di film ini berkali-kali. Ya mungkin gue yang agak lebay dalam memahami film ini.
Bahkan pada saat gue nonton pun, gue sama sekali nggak tahu kalo ini kisah nyata, pas gue cari di google baru gue tahu kalo ini kisah nyata. Bahwa perempuan ini memang ada, Margareth Thatcher ini memang nyata.
Inilah dia wanita besi dari Inggris itu:
You are Inspiring woman mam. We have same thought, but I don't have your encourages. I am the woman who still have a dream, but I also don't know how to realize that. You know you can change your country. But for me, I am the one who would like to change my country, I wish I could. But I don't know how to make it true. I also know my country need someone to help, someone to lead this country to be better better and getting better.
Hah, terlalu jauh mungkin mimpi itu. Kita mulai dari yang kecil aja, penyetaraan gender di negeri ini.
Tetapi, sungguh aneh, ketika kita membicarakan peyetaraan gender, bukan wanita yang bergerak untuk menyetarakan dirinya, malah para pria yang menyetarakan diri dengan perempuan.
Ketika di film itu, suami Margareth Thatcher adalah seseorang yang mendukung istrinya untuk maju, tapi di negeri ini wanita maju sendiri dan pria nya malah bergelayutan di kekuasaan kaki istrinya.
Ada beberapa point yang gue ambil dari film itu:
1. Di negara mana pun pengkhianat itu pasti ada (dalam pemerintahan)
2. Di negara mana pun politik itu kejam
3. Di negara manapun perempuan pakai high heels itu sakit
4. Ada seribu alasan bagi wanita untuk tidak mencuci piring, dan ada seribu alasan juga bagi wanita untuk mencuci piring.
5. Kesetaraan Gender itu mungkin nikmat sekilas, tapi tidak selalu indah pada akhirnya. Kadang kodrat lah pemenangnya.
Jujur sebagai wanita kadang ingin rasanya untuk maju, dan berjuang bersama. Tapi memang ada yang lebih penting dari memikirkan nasib banyak orang, yaitu nasib keluarga sendiri. Disaat kita maju untuk negara, ketika negara itu maju, maka orang akan mengelu-elukan pemimpinnya, tapi pada saat negara itu menuju gerbang kehancuran maka mereka lupa atas siapa negara ini pernah membaik.
Itu lah yang gue juga rasakan kepada jasa pak Soeharto. Ya betul, presiden ke dua negeri ini, presiden terlama. Yang memang tak hanya jasa yang dia torehkan di bumi pertiwi ini, tapi juga sedikit kesalahan. Sayang sedikit kesalahan itulah yang sekarang justru malah lebih dikenang oleh banyak orang ketimbang kebaikannya.
Ya dinegara manapun hukum seperti itu berlaku, sedikit kesalahan, akan menutupi dengan sempurna kebaikan yang telah dilakukan sebelumnya.


No comments:
Post a Comment