Tuesday, March 15, 2011

guratan guratan pena merah

Dalam hati yang bimbang

Tanganku mengayunkan pena merah

Ke atas kebawah ke kanan dan kekiri

Seolah menggambarkan hatiku yang kusut

Terciptalah guratan-guratan pena merah

Sesuatu yang kusut

Sesuatu guratan yang sangat tidak indahuntuk dilihat saat ini

Guratan-guratan pena merah yang melukiskan perasaan ku

Yang sedang kusut seperti hatiku

Yang sedang kacau seperti hariku

Persis seperti pikiran ku saat ini

Kusut, tak ada celah untuk befikir jernih

Hanya ada guratan-guratan kesedihan

Guratan-guratan kebimbangan

Tanpa kata dan tanpa makna

Selamat Jalan mbak Debbi

Sambil mencari-cari kesibukan dikantor, saya melihat bbm status update dari teman-teman, tampak beberapa rekan dari kantor lama mengganti status nya dengan membawa pesan yang sama, antara lain:

Danang Dos Santos : Innalillah wa inna illaihi raji’un.. selamat jalan mbak..

iSampe : -RJS- selamat jalan mbak @debbie L

Zikri Hayat : RIP, sahabtku Debby Catherine, Insya Allah surge untuk mu, Amin

Hesti Rayani : Innalillahi wa inna ilaihi rajiun….

Dari status update bbm mereka yang bersamaan, gue menarik kesimpulan bahwa gue telah kehilangan teman, saudara, kerabat yang sangat baik selama ini…. Masih berharap bahwa kesimpulan gue salah, gue bbm mbak hesti dan sampe, dan ternyata dugaan saya benar. Mbak Debbi telah pergi untuk selamanya. Mbak debbi udah pergi kembali ke pangkuan Nya.

Langsung gue lari ke toilet, ada rasa yang ketahan di dada gue, yang akhirnya menumpahkan air mata. Bagaimana tidak, orang yang selama ini selalu tersenyum, wanita baik hati dengan senyum manisnya, dengan penuh keceriaan, pergi dalam waktu secepat ini, dalam usia nya yang masih belia, masih teringat jelas senyum nya, canda tawa nya, riang gembiranya dia ketika berbicara. Dan hari ini gue tersadar, ada batas waktu yang Tuhan berikan untuk kita.

Tuhan, sungguh umur kami semua ditangan Mu. Kepergian Mbak Debbi untuk selamanya telah menyadarkan ku, bahwa aku pun akan bernasib sama seperti dia, hanya tinggal menunggu waktu. Aku telah kehilangan salah satu teman terbaik ku, dia mengajarkan ku secara tidak langsung bagaimana cara tersenyum, bukan untuk terlihat cantik, tapi untuk menunjukan bahwa kita bahagia. Dalam sakitnya dia tetap tersenyum, dalam segala deritanya dia selalu tersenyum.

Tuhan, Engkau selalu memberikan pelajaran dari setiap kejadian, dan pelajaran hari ini sungguh sangat berarti untuk ku. Kepergian mbak Debbi menyadarkan ku, bahwa kehadiran Mbak Debbi selama ini dalam hidup ku juga tidak sia-sia. Kepergian mbak Debbi pun tidak sia-sia. Aku kembali menyadari bagaimana aku harus bersikap dalam menghadapi masalah dunia ku, dan aku belajar bagaimana singkatnya waktu yang diberikan Tuhan pada ku, aku masih diberi kesempatan, Tuhan menyadarkan ku mengenai waktu yang tersisa yang aku punya melalui Mbak Debbi.

Selamat Jalan Mbak, senyum mu akan selalu kuingat. Kerianganmu akan menjadi pelajaran berarti untuk ku. Selamat Jalan, semoga kau tenang disisi Nya. Amin.

Bukan Materi

Ada yang lebih dari sekedar materi, yaitu kenyamanan
Kenyamanan adalah suatu kata yang tak ternilai harganya.

Didalam rumah kalau tidak nyaman, orang akan lebih memilih mengeluarkan uang untuk beristirahat di Hotel, Kost, atau di rumah kerabat.

Didalam kantor, meskipun dibayar dengan bayaran yang besar, tapi kalau tidak nyaman, tingkat turn over akan tetap tinggi, tidak sedikit karyawan yang lebih memilih keluar dari pekerjaan mereka yang membuat mereka tidak nyaman, meskipun mereka harus pindah kerja ke tempat yang tidak lebih baik dari tempat mereka sekarang.

Dan ada banyak hal lain dimana materi menjadi tidak begitu penting, ketika dibenturkan dengan kenyamanan.

Bagaimana membuat sesuatu itu menjadi nyaman adalah hal tersulit, tapi sebagai pemberi service yang baik, multak diperlukan ada nya rasa kesadaran untuk menghadirkan kenyamanan.

Begitu pula dalam beribadah, juga diperlukan kenyamanan. Siapa yang kita layani pada saat kita beribadah, tentu saja Tuhan dan diri kita sendiri. Untuk itu dala beribadah kita perlu menghadirkan rasa nyaman.

Bagaimana hal nya dengan pasangan, pasangan dengan materi berlimpah juga bukan jaminan akan kebahagiaan seseorang, tapi rasa nyaman menjadi factor utama. Ketika seseorang sudah merasa nyaman dengan pasangannya, dia akan rela untuk melakukan apa saja demi pasangannya, meskipun tanpa harta yang berlimpah.

Sama hal nya dengan liburan, liburan tidak harus pergi ke tempat-tempat mewah dan mahal, tapi mencari suatu tempat liburan yang nyaman, yang bisa mebuat kita rileks baik pada saat ataupun setelah liburan.

Masihkan anda berfikir materi diatas segalanya…???

Saya TIDAK

Friday, January 28, 2011

Some of them Write, Some of them Read

Duduk di coffee shop, sebagian orang merupakan gaya hidup, sebagian orang menganggap sebagai suatu kebutuhan. Bagi orang-orang yang memiliki hobby membaca, menulis, dan bersosialisasi biasanya menjadi kebutuhan bagi mereka untuk sekedar duduk di coffee shop sambil menikmati kopi mereka.
Kemarin, ketika selesai makan siang di kantin gue ngobrol sama temen HR gue, disitu gue cerita kalo selama kerja di perusahaan itu gue udah jarang banget melakukan kebiasaan” gue duduk” di coffee shop, baik ama temen” gue maupun sendiri, karena dulu selama di telkomsel itu gue bisa dibilang hampir tiap hari duduk di coffee shop, kalo makanan pantry lagi nggak enak, pagi udah sarapan di coffee bean biasanya sendirian, dan disana pasti ada aja orang yang gue kenal, sorenya nangkring lagi biasanya ditemenin sama temen gue. Selain hari kerja biasanya setiap sabtu minggu pasti gue udah nangkring di coffee shop di sebuah pusat perbelanjaan. Baik sendiri, ataupun bareng temen-temen.
Yang paling mengejutkan, temen gue ini bilang, kalo gue jangan terlalu memaksakan untuk mengikuti gaya hidup orang, dia bilang supaya gue untuk menjadi diri gue sendiri. Yang jadi pertanyaan gue, siapa diri gue sendiri yang dimaksud sama dia. Gue merasa ini adalah gue, karena seperti yang gue bilang tadi, duduk-duduk di coffee shop itu gue lakukan baik ada teman ataupun nggak. Dan ini udah gue lakukan sejak jaman gue kecil. Seperti yang gue bilang di blog-blog sebelumnya, bokap gue pecinta makanan enak, dan begitu juga gue. Dari kecil gue udah terbiasa duduk-duduk di tempat makan selama berjam-jam. Biasanya setiap abis bagi rapor, kalo abis ambil rapor biasanya nyokap gue selalu ajak gue jalan-jalan, Cuma karena gue nggak terlalu suka shopping kayak nyokap, jadi gue di tinggal di dunkin, dan nyokap belanja. Dan kalo selesai pulang les. Atau kalo lagi ketemuan sama bokap gue.
Jadi apa yang gue lakukan sekarang adalah kebiasaan-kebiasaan yang udah gue lakuin dari lama, agak heran kalo denger ada yang bilang kayak gitu. Lalu mungkin pertanyaan yang sama yang udah sering banget gue denger baik dari dia ataupun temen-temen gue yang lain, rata-rata mereka bertanya APA yang gue lakuin di coffee shop tersebut. Yang gue lakuin di coffee shop itu kalo gue lagi sendirian biasa nya gue nulis, atau baca, sebelum jaman laptop, gue selalu nulis di buku, kalo jaman kuliah gue duduk di coffee shop untuk belajar. Kalo udah kerja murni Cuma buat nulis, nulis, dan nulis. Sesekali gue membaca. Tapi kalo ada temen, ya ga usah ditanya apa yang gue lakuin udah pasti ngobrol sama mereka berjam-jam.
Mungkin saat ini lo bertanya ‘APA ENAKNYA’, sekali lagi masing-masing orang memiliki hobby nya masing-masing, dan buat gue hal-hal kayak gini jauh lebih menyenangkan daripada Shopping, ke salon, ke bengkel, olahraga, fitness, aerobic, yoga, dst… Sama hal nya dengan gue melihat orang-orang dating ke tempat fitness, gue juga bertanya-tanya, ‘APA ENAKNYA’. Udah bayar mahal, capek, ga abis pikir sama para pecinta fitness. Atau sama orang-orang yang doyan banget ke Salon. Semua masing-masing orang punya hobby mereka masing-masing. Begitu juga ada orang yang betah banget ngurung diri dirumah. Itu adalah hobby mereka, dan gaya hidup mereka masing-masing. Yang terbentuk dari mana mereka berasal, dan gaya hidup mereka.
Jadi kata-kata memaksakan agak aneh buat gue, mengingat dia pun bahkan mengenal gue tidak lebih dari 1 bulan, bagaimana bisa bilang itu adalah memaksakan. Orang akan melakukan apapun demi hobby nya. Gue juga kurang faham apakah ini gaya hidup atau bagaimana, mengingat kalo dibilang gaya hidup ini udah terbentuk dari gue kecil, sayang nya ternyata hal ini juga dilakukan oleh opa gue, balik lagi pertanyaan gue, apakah ini turunan atau apa… Tapi apapun itu gue sangat menikmati hal-hal seperti ini.
Beberapa datang dari mereka untuk menulis, beberapa datang untuk membaca, dan beberapa untuk bersosialisasi. Mereka datang tanpa keterpaksaan.
Mungkin ada orang-orang yang menganggap duduk di coffee shop itu bisa mengankat kelas mereka, jadi kadang ada orang-orang yang duduk di coffee shop Cuma sekedar pingin dianggap ‘ada’. Iya, mungkin terjadi kalo mereka duduk di coffee shop dan ketemu temen-temen nya, dari situ mereka bisa dianggap ‘ada’. Tapi gimana kalo dia Cuma datang sendiri ke coffee shop itu, tanpa ada 1 orang pun yang kenal dia, buat apa dia merasa pengen dianggap ‘ada’. Karena kalo orang tersebut bukan jiwanya disana, dipaksakan seperti apapun mereka tidak akan betah untuk duduk berlama-lama disana, mereka akan bingung apa yang harus dilakukakan, mereka tidak akan menemukan kenikmatan dari ritual itu.
Sama hal nya seperti orang sembahyang, kalo mereka hanya sembahyang untuk dianggap alim, mana mungkin mereka mau sembahyang tanpa ada yang melihat, tapi kalo sembahyang itu adalah panggilan dari jiwa mereka, ada kesadaran penuh dari diri mereka, maka apapun itu baik dilihat ataupun tidak sama orang lain, mereka akan tetap sembahyang.
1 lagi, gue juga ngerasa aneh kalo dibilang duduk di coffee shop bisa dibilang sebagai eksmud, bisa menaikan strata. OMG, gue Cuma bisa bilang, masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk tampil sebagai eksmud, dan untuk menaikan strata.karena orang yang duduk di coffee shop terutama pada hari libur, bisa dibilang udah nggak terlihat mana eksmud mana bukan, sebagian juga banyak anak-anak kuliahan, anak sekolah. Menaikan Strata, hmm ini yang lebih aneh lagi, sama sekali nggak ada sinkronisasinya. Mengingat coffee shop itu jauh lebih murah dibandingkan jalan-jalan keliling mall. Yang pastinya kalo orang jalan keliling mall, selain kaki capek pasti uang yang dikeluarkan lebih dari Rp. 50.000,- untuk sekali keliling mall. Tapi ketika kita duduk di coffee shop, dengan Rp.50.000,- kita bisa duduk berjam-jam, mengasah kreativitas, dan menikmati minuman terlezat didunia, hmm yeah coffee.
Ditambah lagi para gamers, yang sekarang udah mulai turut meramaikan coffee shop itu sendiri. Jadi sebetulnya siapa yang berpandangan sempit. Hmm mungkin tidak ada, ini hanya masalah persepsi.
Jujur, gue yakin banget hobby gue menulis ini tidak lain dan tidak bukan, adalah karena keterbatasan gue dalam berbicara, biasanya gue lebih terbuka melalui tulisan daripada ucapan, gue lebih jujur didalam tulisan-tulisan gue. Karena ketika udah face to face biasanya gue hanya selalu ‘menyenangkan orang lain’. Gue tidak terbiasa mengkritik seseorang secara langsung, tidak biasa mengkomentari sesuatu secara langsung, mengeluarkan apa yang gue rasakan secara lisan.
Sebel, marah, sedih, kangen, sayang, kecewa, bahagia, semua biasanya gue ungkapkan melalui tulisan. Dan gue nggak heran, mengingat gue terbiasa menulis buku harian dari gue SD, dan gue lebih nggak heran lagi, karena opa gue juga melakukan hal yang sama. Opa gue punya hobby menulis buku harian. Jadi jangan heran kalo lo masuk kamar gue dan lo akan melihat jumlah buku bacaan dengan buku harian gue lebih banyak buku harian gue.
Sekali lagi coffee shop adalah prasarana dari hobby gue. Tidak ada yang memaksa dan tidak ada yang merasa terpaksa. Gue sangat terbantu dengan ada nya coffee shop, gue bisa punya ‘me time’ khusus untuk menulis menulis dan menulis. Ada yang datang untuk membaca, ada juga yang datang untuk menulis. Dan gue adalah orang yang datang untuk menulis.

Sekian, terima kasih.
Wassalam.

Sunday, January 23, 2011

Cloudy Sunday

Perjalanan hari ini dimulai dari rumah menuju kost, ingat niat nya Cuma untuk pulang ke kostan, Cuma karena dirumah tidak ada makanan maka, dengan 2 tas di masing-masing tangan gue naek ojek menuju Ayam Bakar BuLis, ini ayam bakar paling maknyosss se Jakarta raya, sambelnya pedes bukan maen, ayam nya empuk, dan yang terpenting dari yang paling penting adalah harga nya, harga nya tidak mahal. Ahaaa… kalian pasti senang mendengarnya… ^_^

Sampe di tempat ayam bakar, ga pake basa basi langsung pesen ayam kalasan + nasi uduk, pas lagi enak” makan dibangku sebelah duduk lah sekelompok keluarga, si anak menangis meraung-raung, tangisan nya udah mulai mengganggu para pelanggan yang ada, karena merasa nggak enak, si ibu pun memarahi si anak, menyuruh si anak untuk diam, nggak lama si nenek memarahi si ibu karena telah memarahi cucunya didepan umum. Lalu muncul pertanyaan, apa yang dipikirkan si anak pada saat itu, dan bagaimana perasaan si ibu saat itu, lalu apa yang ada dipikiran si nenek pada saat itu.

Berikut kemungkinan-kemungkinan yang ada:

1. Si anak kasian sama ibunya karena dimarahin sama neneknya gara-gara dia

2. Si anak merasa puas melihat ibunya dimarahi neneknya karena telah memarahi dirinya

3. Si Ibu merasa gondok setengah mati sama si nenek karena telah memarahi dirinya di depan anaknya.

4. Si ibu merasa tersadar karena telah memarahi anaknya di depan umum

Tidak ada yang benar ataupun salah didalam kasus ini. Tergantung dari sudut pandang orang yang melihatnya.

Case ke dua:

Dalam perjalanan menuju kostan gue naek P20 (Senen – Lebak Bulus) dari kuningan, dengan harapan itu Cuma 1 kali naik, jadi lebih murah, dan ga perlu naik berkali-kali. Kenyataannya, P20 sama sekali tidak lewat depan PIM, tahu-tahu langsung sampe di Poin Square Lebak Bulus, suatu tempat antah berantah… dari situ langsung naek taksi ke PIM. Maksud hati pengen irit Rp.2000,- malah bablas kehilangan Rp. 10.000,-. Tapi dampak positifnya, gue jadi tahu kalo naek P20 itu sama sekali nggak lewat PIM, dan akhirnya gue tahu kalo Poin Square Lebak Bulus bukan suatu tempat yang buruk untuk dikunjungi.

Sekali lagi, ini semua tergantung bagaimana melihat persoalannya.

Case ketiga:

Dari perjalanan PIM ke Dunkin Donuts Sultan Iskandar Muda, ditaksi diputer lagunya Smash, yang mana sejujur-jujurnya dari libuk hati yagn paling dalam, gue bener-bener nggak suka ama si smash ini, musiknya beneran bukan selera gue sangat, berikut percakapan antara gue dengan pak supir:

Me : Pak, maaf, boleh diganti ke saluran laen aja pak…

Supir Taksi : oh iya mbak, abis lagu ini yah…

Me : (diam tanpa kata)

Tak lama setelah smash , lagu peterpan yang diputar, si supir taksi menepati janjinya untuk ganti saluran, tapi gue suka sama suaranya si ariel ini, and langsung gue minta dibalikin ke channel peterpan tadi:

Me : Pak, biarin yang tadi aja deh…

Supir Taksi : Maaf mbak, saya gak suka sama ariel…

Me : (diam tanpa kata untuk yagn kedua kalinya)

Sekali lagi ini adalah bagaimana kita melihat semua masalah….

Saturday, December 11, 2010

Phuket 2010

Phuket 2010.

Fuihhh setelah menunggu lama akhir nya jadi juga perjalanan gue ke phuket, setelah vietnam, sekarang menjelajah thailand. Yippieee...

Dengan segala suka dukanya gue berangkat sama my beloved aunty yang mungil tante Ubeth, dan another beloved aunty yang cantik tante otha. Kita berangkat dari Jakarta hari kamis pagi. Dan sampe di Phuket sore hari lah. Kalo diliat dari pesawat, asli keren bangetttt emang yang namanya phuket ini, sebelum kita mendarat aja, gue udah ngiler duluan ngeliatnya.

Dari bandara kita disambut sama penjaga bandara yang GALAK PARAH..
Pas tante Ubeth mau foto gue ama tante Otha di bandara. Biasalah kalo ke negeri orang belum afdhol rasanya kalo belum foto di bandara negara tujuan. And mana we te he kalo ternyata di bandara itu dilarang mengambil foto. Dan seketika kita ditegor sama petugas bandara yang langsung teriak sambil lari kearah kita, kalo gue bilang lebih mirip kayak neriakin maling. Dengan kasar dia minta kita untuk hapus gambar nya saat itu juga. Ya tante ubeth, masih dengan senyum ramah khas Indonesia cuma bilang "Oh sorry, we don't know about that. We will delete it, you can see ya". Sambil nge-delete sambil ngasih liat ke petugas. Dan muka petugas setelah dapet senyuman dari tante gue, ternyata tetep galak. Ga berubah satu derajat pun itu garis bibirnya. Ajib bener dah ini negara.

Antrian panjang di imigrasi dimulai, dan ga ada satupun penjaga yang tersenyum... (sama seperti di Vietnam & Malaysia). Malaysia lebih parah lagi, di dadanya tersemat jelas pin "we serve with smile" tapi Smile nya dalam hati mungkin ya.
Sampe di luar, kita cari taxi, dapat lah taxi yang siap mengantar kita ke Rico's Hotel. Hotel yang udah di booking sama tante gue dari jauh-jauh hari hasil dari pencarian di internet, dari bandara ke hotel lumayan jauh. Hotel ini terlihat dari luar nggak begitu bagus, tapi pas di liat dalam nya yaa lumayan lah, lumayan banget, mengingat untuk hotel ini kita hanya mengeluarkan biaya Rp. 200.000,- / malam (tanpa sarapan).


Didalam kamarnya sendiri ada 1 king bed, dan 1 single bed. 3 kursi di tengah kamar, TV cable, connecting door. Sorry ya, kasur nya berantakan, tante-tante gue kalo tidur agak rusuh.


Ruangan nya homie banget, kamar mandinya juga bersih. Ada lemari pakaian yang besar, ada buffet, ada lemari kecil. Interiornya juga bagus, nyaman banget.



Hotel kita terletak ga jauh dari pantai, jadi kalau kita mau maen ke pantai tinggal jalan kaki. hmmm mantab banget kan.
Begitu sampai hotel, hal yang pertama kita lakukan adalah berbenah, secara bawaan kita itu rempong banget, maklum perempuan. Abis itu mandi, dan shalat Ashar. Karena merasa waktu yang kita punya nggak banyak, walaupun udah ngiler ngeliat kasur empuk nan bersih itu, tapi aroma pantai udah mersauki pikiran kita, kita langsung jalan-jalan ke pantai. Pantai nyaaa asli bersiiiihhhhhhh bangetttt. Beda banget sama pantai-pantai di jakarta, baik ancol ataupun pulau seribu. Disini pengunjungnya juga banyak, tapi pantai mereka tetep bersih. Kesadaran mereka sama lingkungan kayaknya jauh lebih tinggi dibanding di Jakarta. Dan untungnya hampir semua penduduk di sini bisa bahasa inggris, jadi gue juga nggak kesulitan kalo mau jalan-jalan, dan cari makan.
Pantai ini pasir nya putih, pemandangannya indah, karena nggak jauh dari pantai kita udah bisa liat gunung.



Makanan pertama yang kita coba pas disana, setelah 1 jam keliling pantai dan 1 jam mencari makanan halal, akhirnya kita nemu Mc'D, udah kehabisan ide buat cari makanan khas sana yang halal. Abis makan Mc'D baru kita balik ke kamar, istirahat sebentar, malemnya baru keluar lagi. Kebetulan hotel kita deket banget kalo mau kemana-mana. Di daerah Soi Bangla. Sepanjang malam itu emang benar-benar jadi tempat hiburan malam yang hidup banget. So much fun here. If you like beer, you must go to here for the best price. Perempuan-perempuan dengan pakaian secukupnya, asal nutup, nggak tahu juga itu perempuan atau bukan. Tapi asli mereka itu ramah banget.



Malam itu kita makan di seafood restaurant. Tante Ubeth ini termasuk pemilih, dia masih takut kalo makanan itu haram, jadi dia nggak pesen makan. Kalo gue, nggak usah tanya, kalo udah di negeri orang selama bukan babi hajar aja. Laperrr dan sayang banget kalo nggak wisata kuliner disini. Jadilah di tempat seafood ini cuma gue ama Tante Otha yang makan Seafood. Terus kita jalan lagi cari makanan lagi buat Tante Ubeth, akhirnya nemu Cairo Resto, dengan tulisan HALAL yang gede banget. Ga ragu, Tante gue langsung masuk.  Disitu kita pesen seafood juga, tapi lebih halal dari yang sebelumnya karena nggak di campur wine kayaknya. Tapi emang rasanya lebih enak yang gue makan pertama.


Abis makan, baru kita keliling lagi lagi dan lagi. Nggak ada capeknya sama sekali.


Tapi waktu harus berhenti dulu. Kita tetap harus istirahat. Karena kita masih harus jalan-jalan ke James Bond Island ke esokan harinya.

Day-2
Location in James Bond Island:

Berhubung yang punya kamera si Tante ubeth, jadi dia juga yang diabadikan di depan James Bond island ini.
Ngeliat palung begitu doang sih gue biasa aja, yang bikin gue sedikit wonder ya, ternyata pas di James Bond Island ini ada tempat Shalatnya, lengkap dengan Mukena dan Sajadah. Oh Phuket, pesona mu benar-benar membunuhku.


And I really want to go back there.
Ya Allah, beri aku kesempatan kembali kesana. Amin.

Wrote on 2010. Published on 2012.

Friday, September 17, 2010

ANGKOT

Pernah ga lo tidur di bis...??
Gimana rasanya...?? Enak banget pasti kan...??

Nggak tahu kenapa, buat gue yang namanya naek angkot itu sebenernya indah banget, angin sepoy-sepoy, pemandangan santai bisa kita nikmatin, tingkah laku orang asing, dan akhirnya menyadari keunikan manusia...

Siang ini, gue naek kopaja 66, sengaja pulang dari ambasador mau naek angkot, dengan buku ditangan gue menikmati perjalanan dan angin sepoy-sepoy ini menuju ke kantor, pas lagi konsentrasi dengan dunia sendiri cewe di belakang gue kayak abis di apain gitu ama si penelpon di seberang sana, yang tadinya gue ga niat nguping, otak kiri gue jadi muter kebelakang, pendengaran gue mengarah ke belakang, dan mencoba nguping, hah asli ga penting banget kelakuan gue kali ini...
tapi sekali lagi, perempuan ini datang atas izin Allah SWT, gue dipertemukan atas izin nya, dan tiba-tiba gue bersyukur, dalam ke single an gue, paling nggak gue nggak perlu kayak cewe di belakang gue ini, gue masih bisa menikmati buku-buku ditangan gue. Sekalipun gue tahu roda itu berputar, dan gue mungkin aja suatu saat nanti ada di posisi tu cewe (amit-amit jabang bayi nangis di metro gara-gara cowo sialan ga penting *sambil elus elus perut ndutku*).
Gue tetep bersyukur dengan keadaan gue hari ini. Tertawa dalam kesendirian, tidak merasa sepi dalam kesendirian. ini lah hebatnya gue. kayak lagunya anak jalanan - Alm. Chrisye:

anak jalanan kumbang metropolitan
selalu ramai dalam kesepian
anak jalanan korban kemunafikan
selalu kesepian di keramaian

gue banget tuh, ngerasa ramai dalam kesepiann..
dan kesepian di keramaiann...

Dan cocok banget dengan tema gue sebagai anak angkot alias anak jalanan kali ini...
Kalo di angkot, banyak hal yang bisa lo pikirkan, mulai dari negara, lingkungan, orang-orang miskin, orang-orang kaya, karena pas lo sendiri pikiran lo bisa menari dengan leluasa, itulah kenapa kalo lagi di angkot gue seneng denger lagu, biar pikiran gue menari-narinya bagus, kasian mereka kalo menari-nari tanpa musik.

diangkot, peluang lo ketemu orang itu sangat banyak, tapi biasanya kalo diangkot gue berharap ga ketemu sapa-sapa, karna gue sangat menikmati moment-moment kesendirian gue diangkot, jadi bisa konsentrasi melihat hal-hal baru... yang bisa kita liat dari sudut pandang lain...

nggak tahu kenapa, kalo gue naek taksi gue nggak pernah bisa tidur, mungkin karna gue takut keterusan, dan kita juga pasti ga mau dibawa muter-muter sama abangnya, dan kita juga takut diapa-apain, tapi kalo diangkot, nggak tahu kenapa jarang banget gue nggak tidur, niy mata pasti kalo udah setengah perjalanan dia pasti langsung merem, begitu badan gue bisa menyesuaikan diri dengan irama laju abang nya bawa tuh angkot/bus.

dari angkot gue bisa liat sepasang kakek nenek yang tetep akur, dari angkot gue bisa liat kalo pengemis Jakarta itu bukan miskin tapi mereka malas, mereka bangga dengan pekerjaan mereka sebagai pengemis. gue bilang ini bukan tanpa bukti, pernah ada ibu-ibu kasih gelandangan di daerah UKI uang, terus ditanya dia mau sekolah nggak, dengan cepat anak itu langsung bilang, nggak saya mau ngamen aja, lalu ibu itu menawarkan kalo dia mau bantu biaya sekolah nya, dan dengan lantang juga si anak menjawab kalo dia lebih seneng mengamen karna bisa punya uang lebih banyak, daripada dia harus sekolah.

dan bukan cuma itu, pernah juga gue nemuin pengamen di daerah blok M, dia dikasih makan sama ibu-ibu, dan makanan itu dibuang, padahal bis masih ada disitu.

Lihat... intinya mereka bukan butuh makan, mereka butuh uang...

Ini semua hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang naik angkot, kalo anda naik turun mobil atau taksi, ya mana bisa ngeliat hal-hal seperti ini...

Apa lagi setelah membaca buku totto chan, jujur hati gue miris banget, gue juga nggak nyangka kalo gue masih punya hati... ternyata diluar sana, banyak bangettt orang-orang kelaperan (dalam arti yang sesungguhnya..) kalo kalian punya uang, gue saranin kalian beli deh buku ini, dari situ kalian bisa bandingin antara orang miskin di indonesia dengan orang miskin disana, mereka ga ada lagi yang bisa dimakan, tanah tandus, semua serba sulit...

kalo kalian punya rejeki lebih tolong dukung sekalian program UNICEF, kalo kalian makan di fastfood restaurant, seperti pizza hut, mereka menyediakan sarana untuk kita berbagi rezeki, yang mana itu akan disampaikan kesana.

tapi jangan lupa, abis makan pizza pulang naek angkot, untuk membuktikan cerita gue.

Teman, hal yang paling menyedihkan dari hidup seseorang adalah kalo selama masa hidup mereka mereka nggak pernah naek angkot..

Hal yang paling menyenangkan, kalo lo bisa tidur di angkot. apalagi kalo sampe mengunjungi angkot war.

Bagi gue, angkot lebih berfungsi daripada busway yang ngerjain orang itu... jarang gue liat busway kosong... angkot is the best choice lah pokoknya....

Hidup angkottt hiduppp angkottt...
Mari perbaiki angkot kita supaya ramah lingkungan....
*berharap ada yang mendengar jeritan suara sumbang saya*