Showing posts with label I thought. Show all posts
Showing posts with label I thought. Show all posts

Thursday, January 5, 2012

Kedewasaan

Kedewasaan itu bukan dilihat dari umur
Tapi bagaimana orang itu bersikap

Seringkali gue dihadapi dengan orang-orang yang sudah cukup umur, tapi sikapnya masih kekanak-kanakan. Masih ada rasa ngambek, mementingkan ego sendiri, mudah marah hanya karena hal-hal kecil.

Akupun masih dalam proses itu, dalam proses pendewasaan, berusaha untuk menyikapi semua secara lebih bijak, menghadapi persoalan hidup dengan pemikiran yang matang. Mencoba memposisikan diri di orang lain sebelum bertindak.

Tapi, ini lah hidup, disaat perubahan itu kita sedang jalani, banyak sekali orang-orang di sekitarku yang tetap ada pada dunia MAU MENANG SENDIRI nya, apa maunya harus dituruti, semua pendapatnya adalah BENAR, seolah di dunia ini hanya dia sendiri yang hidup di dunia ini, yang lain seperti pajangan, yang lain harus menuruti apa yang dia kehendaki.

Dan itulah kuasa Tuhan mengajarkanku, bahwa orang seperti itu sangat MENYEBALKAN, aku berusaha untuk tidak menjadi seperti itu, dan senantiasa mendoakan agar orang-orang itu bisa berubah menjadi dewasa perlahan, sebelum waktu akan mengembalikan mereka ke posisi MENANG EGO itu.

Menurutku, MENANG EGO itu mungkin menyenangkan kita sesaat, tapi selebihnya, tidak ada manfaat lain, orang jadi tidak suka sama kita, kehilangan wibawa, kehilangan kearifan, dan tenu saja tidak ada tanda kedewasaan itu. Cuma umur yang semakin bertambah.

Dewasa itu adalah tingkat paling atas dalam kehidupan, tingkat dimana kita seharusnya bisa menjadi diri sendiri, tingkat dimana kita bisa melakukan semuanya sendiri. Berpikir sendiri, menentukan baik dan buruk.

Oh, Life, begitu sulitnya ternyata menemukan makna dewasa itu.

Lebih sulit lagi mencari orang yang benar arif, benar bijaksana.

Bahkan pemimpin kami pun, kami ragu apakah beliau sudah arif dan bijaksana. Tapi kalaupun belum, maka kamilah yang seharusnya menyikapinya dengan lebih arif, bukan dengan kritikan demi kritikan, yang tak kunjung henti.

Ya Allah karuniakanlah kepada kami pemimpin yang Dewasa (dalam artian harfiah) Arif lagi Bijaksana. Baik itu pemimpin negeri ini maupun pemimpin dalam keluarga. Kami merindukan sosok pemimpin yang Arif dan Bijaksana itu Ya Rabb. Amin YRA.

Saturday, December 31, 2011

Berdamai Bersama Alam

Relaxing itu adalah saat di mana ada waktu luang, untuk mengistirahatkan badan dan pikiran, sambil mendengarkan musik dari lantunan lagu-lagu favorite. Dan sejenak menarik ujung-ujung bibir ke atas, mengucap syukur dalam hati atas segala apa yang kita punya.

Menghirup dalam dalam udara yang segar, jauh dari kebisingan, kepenatan ibu kota, mencari kedamaian sejenak berdamai bersama alam. Menikmati aliran darah yang masih mengalir dengan indah, mendengarkan denyut jantung yang masih berdetak, mengistirahatkan mata dengan sesuatu yang hijau setelah berhari-hari mata ini hanya menatap layar komputer dengan megapixelnya yang maha dahsyat, yang membuat mata tak berkedip menatap layar, yang secara tak tersadarkan sebenarnya itu sedang membunuh mata secara perlahan.

Membiarkan angin semilir membelai halus rambut panjang ku.. Menikmati sejuknya udara yang menembus ke dalam pori-pori..

Berdamai bersama kekuatan alam..


Menginjakan kaki ke bumi tanpa perantara, tanpa alas kaki, hanya ada aku dan bumi, dinginnya rerumputan, membiarkan tanah yang coklat itu memberi warna pada kakiku. Seandainya cuaca mendukung, seandainya hujan bermurah hati untuk turun, akan kubiarkan airnya membasahi sekujur tubuhku. Sejenak merasakan kembali ke masa kanak-kanak yang tentu saja tidak akan pernah kembali.

Itulah makna liburan yang aq idamkan.. Berdamai bersama alam..
Thank you,
Lenny Ariesta
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Ini Sakitku Bukan Sakitmu

today, the last day in 2011.

Hari ini diawali dengan badan yang nggak enak, tulang belakang itu rasanya minta diistirahatkan, panas badan naik, mata mulai berair, idung mulai meler. Ya ada sesuatu yang nggak beres di badan rasanya, hmm aku tahu aku tahu, mungkin karena kemarin tidak makan nasi sama sekali, pagi makan muffin, siang makan roti, malam makan half quarternya Kenny Rogers, dan jadilah bukannya diet malah sakit. Dan pada saat gue sakit ini, muncul satu pertanyaan gue, untuk siapa gue melakukan ini semua, apakah gue diet karena orang lain ataukah karena gue sendiri..?? Big question mark in my head, you can see it clearly.

Satu hal yang gue pelajari dalam hidup gue, gue selalu sendiri, dan untungnya gue terlahir dengan kemampuan menyembuhkan diri sendiri. Bukan menyembuhkan juga siy, tapi membiarkan, atau merawat mungkin lebih tepatnya. Terlalu mandiri mungkin. Masang koyo sendiri, kerokan sendiri, gue selalu enggan meminta pertolongan orang lain, tapi anehnya kenapa orang lain disekitar gue nggak begitu ya,kadang kita kan bertingkah seperti itu karena kita tahu nggak enak banget rasanya disuruh-suruh sama orang lain itu.

Contoh, di kostan gue, ada temen kantor lama gue, kostannya kira-kira beberapa blok dari kostan gue, waktu itu gue belum pulang kerja, masih di kantor, dia bbm gue nanya gue lagi dimana dan dia minta gue cepet pulang buat ngerokin dia. Howwwww comeeeee heiiii hellowwwwww, gue masih dikantor dan lu nyuruh gue cepet pulang cuma buat ngerokin lo doang...

And I have another case, kali ini teman se kostan gue, tapi beda kamar, waktu itu dia diare, gue perhatiin emang orang ini sering banget minta tolong ama orang laen, cuma emang jarang minta tolong ama gue, sampe waktu itu di tengah diarenya dia, dia minta tolong gue buat beli obat, and gue sebenernya nggak masalah dia titip beli obat, karena kebetulan emang gue mau ke PIM jadi sekalian, tapi akan beda ceritanya kalo pas sampe di PIM, dia bbm in terus, telp in terus, tanyain kapan gue balik, pertanyaannya, apakah orang tersebut nitip beli obat, apa nyuruh gue beli obat.

Sedangkan gue, dalam sakit gue, gue biasa sendirian, kalo butuh obat, gue yang akan jalan sendiri, masalah kerokan apa lagi, belum pernah gue dikerokin orang laen selaen sama nyokap dan adek gue. Kemandirian itu tertanamkan dengan sendirinya, sakit demi sakit gue laluin sendiri. Karena gue selalu menanamkan dalam diri gue "INI SAKITKU BUKAN SAKITMU, INI TUBUHKU BUKAN TUBUHMU, TERLALU BANYAK URUSAN YANG HARUS KAU KERJAKAN, SELAMA AKU MASIH BISA MELAKUKANNYA SENDIRI, AKAN AKU LAKUKAN SENDIRI, TAK KAN PERNAH AKU MEREPOTKAN MU KARENA AKU".

Pernah di kantor lama gue, di daerah gatot subroto, kantor perusahaan telekomunikasi korea, saat itu gue sakit, muntah, diare, pusing, tapi secara gue orangnya kalo udah sampe kantor, agak sungkan untuk ijin kerja, akhirnya gue paksain tetep duduk standby mantengin budget, lama kelamaan angka itu berubah menjadi bayangan dan kepala gue kayak abis naek komedi puter, langsung gue melangkah gontai ke kamar mandi, sempoyongan abis, sampe di toilet, semua isi perut itu keluar, gue muntahkan begitu saja, lemes banget badan gue, gue duduk pas di samping toilet, menyandarkan kepala yang udah nggak mampu gue angkat ke atas lagi, kepala nempel di toilet, dan tiba-tiba aja gue memeluk toilet dengan mesranya. Sampe ada penjaga toilet mengetuk pintu memastikan siapa di dalem, karena kalo di lihat dari posisi dia, dia hanya bisa ngelihat kaki gue yang udah keluar dari pintu toilet. Disitu kesadaran gue perlahan balik, gue coba bangun, gue balik ke meja, langsung ambil dompet, langsung jalan ke RS medistra. (Kebetulan posisi kantor gue pas banget di sebelah RS Medistra). Sampe di RS Medistra, di periksa sama dokternya, dokter setengah baya itu menyarankan gue untuk di rawat, dia bilang gue dehidrasi. Whatsss dirawat?? satu satunya dalam otak gue saat itu "Mampus, duit dari mana gue!!!!". Gue bilang ama dokternya, supaya nggak dirawat, dia bilang boleh aja, tapi gue harus ngabisin dua botol infus dulu baru boleh pulang. Dan dikasih surat ijin 4 hari. Ya, nggak lama temen sekantor gue telp, tanya posisi gue dimana, baru gue jelasin semua masalahnya, baru dia anterin tas gue, dan lo tahu bukan dia yang anter tas gue, tapi driver kantor. (Fyi, selama dia lihat gue sakit dan segalanya sama sekali itu orang nggak ada basa-basinya, padahal dia liat banget gue tepar).

And that's life, that's my life, ketika gue sakit gue biasa untuk tidak di perdulikan oleh orang-orang di sekitar gue, bahkan orang terdekat gue, tapi ketika mereka yang sakit, kenapa keadaan seolah memaksa gue untuk care sama mereka. Dan sayang nya hati gue pun nggak bisa bilang 'nggak' kalo ngeliat orang sakit, ada rasa nggak tega, tapi suka males juga sama orang-orang yang manja nya kelewatan. But, apapun itu gue tahu itulah hidup, terkadang kita nggak bisa mendapatkan apa yang kita mau. Tapi kita masih bisa memberi. Karena pada hakekatnya hidup adalah memberi, memberi, dan memberi. Pada saat memberi itulah hidup kita mempunyai arti.

Dan dalam kehidupan gue yang tidak mudah, tidak mulus, melewati batas-batas kemampuan manusia, satu hal yang gue sadari, gue NGGAK PERNAH SENDIRI. Pertolongan itu nyata.

Seperti hari ini, sakit gue hari ini, membuat gue ingin merasakan satu hal, 'Pelukan Tuhan'. Ya ga lain dan ga bukan hanya itu, pelukan Tuhan, pelukan abadi yang bisa menenangkan yang hidup ataupun yang mati. Dan perjalanan hidup gue telah mengajarkan untuk tidak pernah mengandalkan manusia, tapi selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.

Itulah yang gue pelajari dalam hidup gue yang nggak mulus, kehilangan yang datang silih berganti, tangan-tangan Tuhan yang selalu menyertai langkah gue. Menjadi MANDIRI is must, mendapat perhatian dari orang di sekitar kita adalah BONUS dari Tuhan, tapi jangan pernah meminta itu dari orang lain, biarkan dunia melihat betapa kuatnya kita. Pada saat kita ada, mungkin mereka nggak akan menyadarinya, tapi pada saat kita nggak ada, biarkan mereka melihat kebaikan kita. Itulah yang kita lakukan hari ini, membuat bagaimana kita akan dikenang esok hari, akan kah kita dikenang sebagai orang yang merepotkan, atau dikenang sebagai orang yang selalu memperdulikan orang lain, dan menjadi contoh yang baik bagi sekitar.

Itulah alasan gue, membuat tag line my story will become my history.

Inti dari semua ini dikarenakan satu hal, gue tipe orang yang nggak suka disuruh/ diperintah, maka sebisa mungkin gue juga tidak menyuruh/memberi perintah, selama bisa gue kerjakan sendiri akan gue lakukan sendiri, karena gue TIDAK SUKA DIPERINTAH!!!!

Thursday, December 29, 2011

Berjudi dengan Waktu

Sebentar lagi akan memasuki tahun 2012. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan ditahun itu. Sama seperti di tahun ini, aku berhasil melalui banyak badai, aku berhasil melalui banyak rintangan. Aku berhasil keluar dari rintangan 2011 dengan senyuman, dengan keselamatan. Aku ingin mengulang kisah sukses ku di 2011 di tahun 2012 nanti.

Di tahun 2011 tidak sekali aku jatuh, aku jatuh berkali-kali, tapi dalam jatuh ku aku segera bangkit dan berdiri. Pukulan-pukulan hebat itu satu persatu berhasil aku lawan, berhasil aku tangkis. Pukulan itu memberikan aku latihan-latihan menjadi bekal untuk menjadi yang lebih baik.

Bangun ku, tidak ada yang menolong aku untuk bangun saat itu. Tapi sungguh benar apa yang tercantum dalam Al Quran "tidak ada penolong selain Allah". Maka selepas shalat malam, di tengah kesepian malam menunggu fajar, aku menangis sesegukan di kamar kost yang kecil, yang hanya muat 1 kasur, 1 lemari, dan 1 ubin lagi untuk shalat. Tangis ku malam itu didengar oleh sang pemilik janji kehidupan. Dia memberikan aku kehidupan yang lebih baik, yang lebih layak, dibebaskan dari segala macam hutang. Dan jadilah aku seperti hari ini dengan kuasaNya.

Aku hari ini, tetap belum kaya, aku masih tinggal di kostan kecil itu, tapi aku terbebas dari hutang piutang. Aku mampu berdiri di atas kaki ku sendiri. Bahkan aku masih bisa membahagiakan orang-orang di sekitarku, ibuku, adikku, dan lingkungan ku. Dan menjadi kaya memang tidak pernah termasuk dalam cita-cita ku, aku hanya ingin hidup berkecukupan, mampu menikmati hidup, bisa membeli apa yang aku butuhkan, bisa bermanfaat bagi orang lain, bisa makan apa yang aku ingin makan, bisa nonton di bioskop untuk semua film yang aku ingin tonton (maklum, aku memang movie mania), bisa membeli buku kesukaanku, bisa menghabiskan hari dengan membaca.

Tapi apa itu saja cukup? BELUM. Manusia tidak pernah ada kata cukup. Itulah yang aku rasakan sekarang. Sejenak, aku memang merasa aku sudah cukup, hidupku sudah berkecukupan. Tapi dengan apa yang aku punya sekarang selalu memaksa kita untuk mencari lebih, lebih, dan lebih lagi. Sungguh Sang Pemilik kehidupan mempunyai rencana yang indah untuk ku. Apa yang aku punya hari ini, apa yang aku dapatkan hari ini, dia merencanakan sesuatu yang indah lagi di luar sana.

Hari itu beberapa bulan lalu, aku adalah orang yang sama sekali tidak tertarik dengan HAJI/UMROH. Aku lebih tertarik plesir ke luar negeri, ke pantai, melihat belahan dunia lain. Ya, itulah mimpiku dari kecil, aku ingin terbang melintasi cakrawala melihat dunia lain, melihat kehidupan di negara lain. Dan Alhamdulillah itu sudah terwujud, walaupun masih hanya sekitar Asia Tenggara saja, karena kemampuanku baru sampai disitu. Dari situ aku punya mimpi untuk terbang lebih tinggi, aku ingin ke benua eropa atau amerika. Tapi tak pernah sekalipun aku berpikir untuk ke mekkah/medinah. Sang Pemilik Kehidupan yang menunjukan kepadaku betapa indahnya Tanah Haram itu.

Ibuku yang selama ini selalu bilang padaku "mama mah nggak pengen jalan-jalan ke thailand, ke singapore, mama cuma pengen Umroh". Tapi pada saat itu hati ku membeku, hatiku sama sekali tidak ikut tergerak, aku tetap tidak tertarik. Lalu aku sampai di perusahaan International Banking ini, rekan kerja ku yang berjilbab ini sering sekali cerita tentang betapa dia pingin umroh. Tapi sama hatiku masih tidak tergerak. Sampai detik bulan November kemarin, sambil menunggu Adzan Maghrib, aku membuka-buka Facebook salah seorang teman SMP ku, disana ada foto-foto dia dan keluarganya sedang Haji dan Umroh. Satu album foto itu merangkai semua kegiatan dia beberapa tahun ke belakang pada saat sedang ke Tanah Haram itu. Dia sudah 3 kali menginjakan kaki ke tanah haram itu. Dan sungguh rasa iri tak tertahankan itu muncul, aku membatin dalam hati "Ya Allah, bagaimana mungkin teman ku, seusia ku, dia sudah 3 kali menginjakan kaki ke tanah suci mu, sedangkan aku, niat sedikitpun nggak". Mataku perih, dadaku seperti ada yang mengganjal, dan tumpah lah tangisan itu tepat dengan suara Adzan Maghrib yang sayup-sayup terdengar dari Masjid Polda tepat di samping kantorku. Dalam shalat ku, aku berucap syukur akhirnya Allah menggerakan hatiku, dan aku pun memohon kepadanya agar aku diberikan kesempatan yang sama seperti Icha (teman SMP ku itu bernama Marissa panggilannya Icha). Maka Umroh pun ada di urutan pertama dalam resolusi ku di tahun 2012.

Malamnya aku menceritakan kejadian itu ke pacar aku. Yeayyy di tahun 2011 ini aku juga sudah punya pacar loh. Yang mana salah satu cita-cita di tahun 2011 itu pun kesampean. Dan memang kami berencana untuk menikah tahun depan. Tapi dimana nya memang masih belum ada kata sepakat, mengingat aku memang bukan dari keluarga orang kaya, tidak punya harta yang ditinggalkan oleh almarhum ayahku, mamaku pengangguran, dan gajiku beberapa tahun belakangan selama aku kerja mengalir begitu saja, untuk uang kuliahku, untuk biaya kehidupan sehari-hari, untuk kebutuhan plesir ku. Dan here I am, manusia tanpa tabungan yang pingin nikah. Begitulah candaan pacarku kepadaku kalau kami ngomongin nikah. Hmm kesel sih, tapi ya sudah lah buat apa juga di ambil hati, toh memang seperti itu kenyataannya.

Dan pucuk dicinta ulam pun tiba, begitu aku menyampaikan kejadian maghrib itu, dia pun memiliki ide untuk menikah di tanah Mu ya Rabb. Kebetulan macam apa ini, apakah ini sudah menjadi jalan bagiku untuk menginjakan kaki di tanah Mu. Mbak Santi (teman sekantor ku yang suka cerita kalo dia pengen bgt umroh) pernah bilang, begitu kita niat, seribu malaikat turut mendoakan, pintu-pintu akan dibukakan, akan diberikan kemudahan, dan akan disegerakan, asal kita NIAT. Dan mungkin ini apa yang dikatakannya benar. Jalan itu mulai terbuka, beberapa teman merekomondasikan biro umroh nya, bahkan ada yang sudah satu paket dengan pernikahannya. Ya Rabb bahwasanya Engkau adalah dekat. Jika memang Allah mengizinkan, maka pernikahan ini mungkin akan dilaksanakan disana. Dan Menikah adalah salah satu resolusiku di tahun 2012 nanti.

Menyadari sepenuhnya aku bukan karyawan tetap di perusahaan ini, maka aku tahu seperti apa aku harus bertindak. Aku harus bekerja keras, aku harus menunjukan yang terbaik, aku yakin ketika kita bekerja dengan sungguh-sungguh sesungguhnya Pencipta Langit dan Bumi melihat dengan jelas apa yang aku lakukan, dan aku tahu tidak akan sia-sia jika aku bekerja dengan sungguh-sungguh. Itupun aku lakukan sebagai bentuk syukurku kepadaNya karena telah diberikan pekerjaan nikmat ini. Bagaimana tidak nikmat, aku masuk kerja jam 10.00 am, gajiku lumayan, kerjaan ku walaupun dadakan tapi aku enjoy, kantor ku bagus, terletak tepat di jantung ibu kota, di gedung yang bagus, teman kerja ku baik, bos ku baik. Oh Tuhan, nikmat Mu yang mana kah yang bisa aku dustakan. Sungguh besar keagungan Mu, Kemurahan hati Mu kepadaku. Dan bekerja dengan sungguh-sungguh menjadi resolusi ke tiga di tahun 2012. Oh ya, dari pertama kali aku menginjakan kaki di kantor ini, sampai detik ini sudah 6 bulan, aku belum pernah sekalipun izin meninggalkan kantor, baik itu sakit, ataupun cuti. ^_^ Itu memang sudah komitmen aku dari awal. Semoga aku tetap bisa menjaga komitmen itu.

Resolusi di tahun 2011 itu ada juga beberapa yang belum kesampean antara lain TURUN BERAT BADAN. Oh my God, sumpah susah banget buat yang satu ini. Dan satunya lagi CANTIK. oh gosh, ternyata jiwa cuek ku memang lebih kentara daripada niat untuk jadi cantik. Dulu diakhir 2010, resolusi ku aku pengen seperti wanita karir lainnya, yang ke kantor dengan tampilan yang cantik, dengan sepatu hak tinggi, rambut panjang yang di blow setiap hari, wajah yang hmm gak usah menor, paling nggak jangan kucel juga. Dan itu hanya berlangsung beberapa bulan. bulan Juli, sebulan setelah aku gabung di perusahaan tempat aku bekerja sekarang, jangankan untuk berdandan, memakai baju saja aku selalu memakan yang itu-itu lagi. Maklum kali ini, aku harus naik turun bis, naik turun jembatan. Kantor ku yang sebelumnya dekat dengan kostan, jadi aku bisa cantik sepanjang hari, gonta ganti sepatu sesuai dengan baju. Dari kost tinggal naek ojek. Tidak ada rintangan. Tapi kalo kerja disini, males banget ngebayangin harus nenteng tas banyak-banyak, satu tas tangan, satu lagi tas isi sepatu. Dan nggak mungkin banget aku pake hak tinggi dari kostan. Masalah rambut, masuk siang bukannya dijadikan waktu untuk ngeblow rambut, malah aku pakai buat tidur. Dan menjadi Cantik masuk dalam resolusi ku yang ke- empat. Dan menjadi kurus masuk dalam resoulsi ku yang ke-5 (yang ini sumpah berat banget, makanya di taro di urutan terakhir) .

Yap, 5 resolusi terpenting di tahun 2012.
1. Umroh
2. Nikah
3. Working Hard Playing Hard (karena jujur aja, tahun 2011, gue kekurangan waktu bersenang-senang, sang pacar bukan orang yang pandai memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang, jadilah setiap weekend selalu ke tempat yang itu-itu saja, mall lagi mall lagi, kalo nggak PIM, Gandaria City, Setia Budi). Maka tahun 2012 ini wajib plesiran lagi.
4. Cantik
5 . Kurusan bin Sehat (Nggak mungkin gue bilang kurus, karena dari lahir gue nggak pernah kurus)

di 2011, perjudian ku dengan waktu untuk beberapa hal aku berhasil memenangkannya, sedangkan sisanya waktu yang berhasil memenangkannya.

Dalam perjudian ku dengan waktu di tahun 2012 ini, aku berharap aku lah pemenangnya.

Wednesday, December 28, 2011

NGESOT

Terlalu letih untuk berdiri
Terlalu sakit untuk jatuh lagi

Tidak ada yang membantu tubuh ini untuk bangkit
Tidak ada yang menopang tubuh ini, bagaimanalah mungkin aku bisa bangkit, dengan semua luka di sekujur tubuhku, luka demi luka yang tak kunjung sembuh, sekali sembuh terluka lagi dibagian lain, terus terus dan terus begitu, hingga aku berada di titik terlemah, kesulitan bernafas.

Yang tertinggal hanya nama papa ku, yang aku inginkan papa ku menjemputku, karena luka ini tak kunjung sembuh, dan aku pun tak tahu apa luka-luka ini bisa sembuh. Hari demi hari luka ini bertambah terus, sakit demi sakit harus aku lalui, SENDIRI.

Tapi aku tidak bisa juga memilih untuk jatuh lagi ke bawah, karena aku tahu, jatuh ke bawah itu rasanya sangat sakit, tidak bisa dibayangkan dengan luka sebanyak ini, ditambah aku harus jatuh lagi, aku tak akan kuat menahannya.

Waktu terus berjalan, tapi aku tidak bisa berjalan sambil berdiri, karena aku masih belum bisa bangkit lagi.

Akhirnya bersama waktu aku hanya bisa NGESOT ala suster ngesot.

FATAMORGANA

Ketika aku melangkah, kulihat di kiriku pohon yang kering, tak berdaun, pohon yang hanya tinggal menunggu mati.

Ku langkah kan kaki lagi, panas itu menembus kaki ku. Kering benar-benar tidak ada air, tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Kualihkan pandangan ku ke kanan jalan, tidak ada yang tersisa selain tulang belulang entah hewan atau manusia, aku tak berani mencari tahu. Yang aku perdulikan hanya bagaimana aku menemukan kehidupan.

Di tengah teriknya matahari, dan panas yang membakar tubuhku, aku masih bisa melihat di depan sana ada kehidupan. Ya masih ada harapan, aku berjalan, tertatih-tatih mempercepat langkahku, tapi ketika ku sampai disana tidak ada air, tidak ada kehidupan, semua masih kering, sama seperti sebelumnya, aku melihat lagi ke depan, seperti nya air itu ada di depan sana, aku jalan lagi menghampiri, tapi hasilnya sama, semua itu hanya FATAMORGANA.

Tetapi, satu hal yang aku sadari, fatamorgana itu selalu memberi harapan akan kehidupan. Masih ada harapan, masih ada. Walaupun kemungkinan nya sangat kecil, tapi HARAPAN ITU MASIH ADA.

Tuesday, December 27, 2011

Keberanian yang Tertunda

06.30 Berangkat dari rumah

07.30 Sampe kantor (kepagian, secara jam kantor saya dimulai dari jam 10.00)

Hmm jadi kepikiran buat cabut gigi, sebenernya niat sih udah dari hari Jumat buat cabut geraham belakang, tapi keberanian dan kesempatan itu belum ada, lagi-lagi untuk urusan pekerjaan, harus kirim titipan bos ke relasi-relasinya. Jadi mungkin hari ini adalah saat yang tepat, kebetulan bu bos juga lagi nggak ada hari ini. langsung mencegat taksi dari depan Pacific Place menuju RSCM.

Kenapa RSCM menjadi pilihan? Tentu saja karena murah, dan dokternya sabar-sabar, kurelakan lah gigi ini dijadikan bahan praktik mereka. Daripada sama dokter gigi yang udah lama, rata-rata galak-galak dan gak sabaran dalam menghadapi pasien. Mungkin mereka nggak tahu, kalo untuk ke dokter gigi itu bagi beberapa pasien sama rasanya kayak narapidana yang mau dieksekusi hukum mati. Atau kayak menghampiri kandang Singa. Masuk ruang operasi aja rasanya masih jauh lebih nyaman daripada harus ke dokter gigi, tinggal di bius, tidur bangun-bangun semua urusan udah kelar.

Kalo ke dokter gigi, harus ngeliat langsung alat-alat nggak jelas ini masuk ke mulut kita, ngoprek-ngoprek gigi kita, denger bunyi bor yang harusnya ngebor tembok. Tapi biarlah demi gigi cantik, maka nekat juga ke dokter gigi, pikiran saya saat itu, kalo nggak sekarang kapan lagi. Mumpung ada kesempatan dan ada duit juga. ^_^

08.00 Taksi burung biru itu tiba juga di depan RSCM bagian gigi dan mulut.

Setelah mengeluarkan uang Rp.20.000 (2 lembar), dan berpisah dengan burung biru itu, saya pun melangkah gontai masuk ke dalam Rumah Sakit tersebut. Untung, saya lupa masuknya dari mana.

Kebetulan rintik hujan mulai turun setetes demi setetes. Sebenarnya saat itu saya bisa saja bertanya ke pada Satpam yang melintas perihal dimana loket pendaftaran. Tapi niat itu saya urungkan, saya melangkah ke pintu keluar, dan menyetopkan Burung Biru yang lain.

Ya, sayang sekali keberanian itu menciut seketika, dambaan memiliki gigi cantik yang sehat itu juga hilang seketika terkalahkan oleh rasa takut yang sudah bertahun terpendam. Saya pun kembali menuju ke kantor lagi, dengan gigi yang masih belum di polishing selama 3 tahun.

Dan entah berapa lama lagi saya bisa memberanikan diri saya untuk ke dokter gigi lagi. Niat nya sih hari Jumat ini, karena seandainya terjadi apa-apa, saya masih punya waktu 3 hari ke depan yang mana merupakan hari libur untuk beradaptasi dengan proses pasca cabut gigi itu.

Dan semua perjalanan ke RSCM hari ini sia-sia. Saya lebih memilih kembali ke kantor, sarapan Butter Sugar Toast dan Yuan Yang Ping milik Ya Kun Kaya Toast, daripada mencabut gigi yang mungkin menyebabkan saya tidak bisa makan apa-apa hari ini.

Friday, October 21, 2011

Sabar

Dijudesin itu asli emang nggak enak banget rasanya. Tapi haruskah menyerah hanya karena itu.

Anyway, ketika kita tahu dijudesin itu nggak enak, kita akan belajar untuk bersikap lebih baik kepada orang lain.

Dan kita juga jadi tahu, setinggi apapun jabatan orang, tidak jaminan orang tersebut faham akan etika berbicara di telp.

Dan juga akhirnya memahami, apapun yang kita rasakan akan keluar dari nada bicara kita. Lawan bicara juga akan bisa turut merasakan emosi yang kita rasakan.

Sabar dalam menghadapi segalanya, belajar dari segala kejadian. That's it. Simple, but believe me, it's not easy to do.
=LeNnY AriesTa=
Pin: 213E0B5E
Twitter: @Lennyari
http://lennyari.posterous.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sunday, October 16, 2011

Kisah di Balik Dinding Kamar

Pekerjaan mereka menghasilkan uang yang sangat cukup lumayan, selain dari gaji yang mereka bawa pulang setiap bulan, mereka punya pemasukan sampingan berupa tips yang bisa mereka bawa pulang setiap harinya. For sure, tips mereka pasti lebih dari 100ribu perharinya.

Sore ini si cantik dari kamar sebelah dengan suara kencangnya sedang melakukan percakapan tlp dengan temannya di teras kamarnya. Dari percakapannya aku menyimpulkan iya akan membelikan temannya (perempuan) itu sesuatu kalau temannya itu bersedia datang malam ini kekostan dan menemani dia untuk mengantar abangnya ke bandara, karena abangnya malam ini harus kembali ke malaysia.

Ya orang seperti dia, tidak sayang dengan uang, beli baju yang bagus, berhura-hura setiap hari, membelikan temannya ini dan itu. Tapi sayang, satu hal yang mereka lupa, pekerjaan mereka sementara, dunia mereka saat ini sementara, pekerjaan mereka hanya akan membutuhkan gadis-gadis cantik yang masih belia. Sementara waktu terus berjalan, mereka akan menjadi tua dimakan usia. Lalu jadi apa mereka nanti, apa pekerjaan mereka setelah ini.

Ya, aku penasaran, pekerjaan mereka sudah lama ada, aku penasaran, jadi apa orang-orang yang sudah tidak dipakai lagi didunia mereka seperti ini, kemana perginya mereka.

Tanda tanya yang cukup besar hadir mewarnai pikiran ku hari ini.

Kenapa mereka tidak menggunakan uang mereka dengan lebih baik, dengan penghasilan mereka, jika mereka tidak terlalu berfoya-foya harusnya mereka sudah bisa membeli rumah, atau paling tidak di kost yang lebih besar dari tempat sekarang. Kebodohan terbesar mereka adalah menghabiskan uang yang sudah mereka dapat, untuk bersenang-senang, terlarut dalam dunia malam. Sibuk mempercantik diri.

Aku yakin, kalian memiliki alasan masing-masing dalam menjalankan kehidupan kalian seperti ini, menikmati hidup kalian sekarang ini. Dan tak bisa menutup mata, kalian hadir mewarnai kehidupanku, memberi pelajaran bagiku. Baik yang aku kenal ataupun tidak ku kenal disini, kalian adalah teman ku. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.

Lenny Ariesta
Twitter @lennyari
IM: ilen_ops@hotmail.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sunday, October 9, 2011

Me, Taxi Diver, and an Old Song

On my way to Ministry of Finance.


Starting at 15:10 until 16:00 I still stuck in Jakarta’s Traffic.

Yes, it is the risk that we should take to stay in Jakarta. Prepare your mentality first before you come to Jakarta.

I using Blue Bird Taxi, the best taxi in town, I ask to the Taxi Driver to turn on the radio, then he do that based on my request. Hmm but what do you expect from that, is he will play the radio? If you think of it, you are totally wrong. He not turn on the radio, he play his favourite song. And do you know what kind of song that he played? He played an old song, Song that came from famous malaysian singer, yeah Siti Nurhaliza.. And fortunately the CD was broken, then he change into radio, oh thanks God you save me. Actually, I like malaysian song, I also like Siti Nurhaliza, but not for that moment, traffic moment, the most cruel moment in life. We listen to Female Radio. After I arrived in Ministry of Finance, the Taxi Driver waiting for me outside. Then, when I came back, the radio has been change into his CD again. :( Guess, what he play off now??? He play Indonesian song, still an old song. Do you know whose the singer?? Nike Ardila Alm. And that song accompanied us until the end of our journey today. Did you know what am I doing there?? Of course I will SLEEP!!!!

Yeah, it’s all about traffic, me and taxi driver. And of course ‘Old Song’. But, did you know what the good news from that. My headache just gone. I thought it causes by rest that I take for a while. Just believe me, God design everything that will happen to your life. Then human will decide the way to face their way. And human has different way to decide.

Friday, September 9, 2011

Mimpi sang Penulis

Buku adalah jendela dunia,
hal ini berlaku untuk semua jenis buku, kemaren pas kumpul sama temen-temen kita bahas masalah buku, tercetus lah buku milik dewi lestari...

jujur gue gak ngerti sama buku itu, sama aja kayak mereka bilang saya monyet, dsb dsb...
yang mana menuruut saya kayak nya buku itu terlalu vulgar.. termasuk seperti roman" picisan dan sebagainya... termasuk salah satu jenis buku yang ga mendidik, kalo isinya hanya seputar PERSELINGKUHAN...

jadi ingat satu jenis buku yang menurut saya termasuk kategori luar biasa, yaitu suatu novel yang menggambarkan pendidikan di Indonesia yang sulit di dapat, ada pesan di dalam buku itu, ada hikmah yang bisa diambil setelah membaca buku, buku yang bisa memberikan motivasi bagi pembacanya. bukan sebaliknya, buku yang bikin seseorang malah terpikirkan tentang perselingkuhan, free sex dan sebagainya.

walaupun dikarang dengan kata-kata yang halus, tapi pembaca dapat merasakan apa yang tertuang di dalam nya.

jujur saya bukan pecinta buku, tapi ketika buku itu bagus, maka saya tidak segan untuk menjadi penikmat dari sebuah buku. adapun buku-buku yang menurut saya bagus adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, bahkan Maryamah Karpov. saya mengikut set ke empat buku tersebut, benar" bukan buku yang membosankan.

Saya berharap, suatu saat nanti para penulis bisa lebih beragam lagi... karena sekarang ini kita hanya punya andrea hirata sebagai penyumbang inspiration novel.

banyak yang bisa dijadikan pelajaran dari kehidupan di indonesia ini, tidak melulu tentang cinta dan sex.

dan saya berharap, suatu hari nanti saya bisa menjadi orang yang saya impikan itu, berharap suatu saat nanti saya bisa menjadi next andrea hirata.

sekian & terima kasih

wassalam

mimpi sang penulis

Friday, May 6, 2011

L H M

Lahir - Hidup - Mati
Tujuan lahir...?????
Tujuan hidup.....?????
Tujuan mati....????

Apapun tujuannya semua melalui PROSES..

Siapa yg melakukan proses...??? (Kita)

Kemarin kita telah melalui proses kelahiran.
Hari ini kita sedang menjalani proses kehidupan.
Beberapa saat lagi kita akan mengalami proses kematian...

Meskipun tanpa tujuan, kita akan melalui 3 tahapan tersebut...

Kenapa kita harus menjalani 3 tahapan tersebut...??

Kenapa kita dilahirkan....???
Kenapa kita diberi kehidupan....???
Kenapa sampai saat ini kita belum diizinkan menuju kematian...???

anda yang berhak menjawabnya.....

kemudian kita mengenal label dalam kehidupan:

baik - jahat

miskin - kaya

bodoh - pintar

cantik - jelek

jujur - pembohong

hitam - putih

hati-hati dengan label ini, jangan pernah terperangkap olehnya.

Tuesday, March 15, 2011

Shopaholic kah aku???

Senin 14 Mar 2011,

Setelah sekian lama nggak pernah lagi makan siang di Plaza Semanggi, kemarin akhirnya gue mengunjungi tempat itu lagi, karena kecepetan dateng, jadi lah gue muter-muter keliling plaza semanggi.

Begitu banyak godaan, gelang-gelang itu menari-nari di etalase toko, mengajak tanganku untuk mencobanya, membuat ku merasa bahagia ketika mencobanya, merasa pantas untuk memakainya, merasa pantas untuk membelinya. Pandangan pun teralihkan ke parfum yang berdiri dengan tegaknya didala etalase toko, pramuniaga yang menawarkan untuk mencobanya, hidungku berkata dengan bijak ‘belilah, kau pantas untuk memilikinya, harga nya pun tidak mahal, bisa kau pakai untuk waktu 3 bulan’ dan kata hatiku pun menyetujuinya. Sampailah 2 bon ditangan ku.

Berjalan menuju kasir untuk membayar, melewati jejeran sepatu-sepatu indah, kucoba satu persatu sepatu yang menarik hatiku, begitu indah dikakiku, membuat aku merasa menjadi wanita seutuhnya, jari jemari kakiku tampak begitu indah dengan higheels warna cokelat muda, yang bisa aku padu padankan dengan blouse ku yang warna crème, lagipula sesuai dengan gelang yang akan aku beli ini. Kaki memohon padaku, untuk membelikan sepatu itu, karena selama ini sudah hampir 6 bulan aku tak pernah membelikan dia sepatu lagi, dan hati ku pun merasa iba, aku menyetujui untuk membelinya.

Sudah terkumpul 3 bon ditanganku. Mata ku pun tertuju pada cincin manik-manik yang indah, kucoba ditangan ku, dan tangan ku pun mengucapkan syukur yang tak terhingga, begitu indah cincin itu melekat ditanganku. Tanpa pikir panjang aku pun menyiapkan 1 bon lagi. Sampailah aku di pintu kasir, dan disamping kassa terpampang tulisan besar Sale 70%, tas itu berteriak-teriak, memberi tahuku bahwa deadline mereka untuk diskon hanya sampai minggu ini, dan otak ku bekerja dengan cepat dan berkata, kenapa tidak, lagipula aku jarang ke sini. Aku menyiapkan 1 bon lagi untuk ta situ, tas yang kujamin akan membuat siapapun yang mengenakannya merasa menjadi sangat berarti.

5 bon sudah kupegang, dan aku sudah berdiri tepat di depan kasir, aku melirik calendar, dan menyadari ini baru tanggal 14 Maret 2011, ah Tuhan hidupku masih panjang. Tuhan, kenapa aku jadi kesurupan begini, kenapa hasrat itu begitu kuat, bahkan akal sehatku menghilang. Kenapa aku jadi mengumpulkan 5 bon sekaligus dala waktu kurang dari 20 menit. Bukan kah niat aku ke Semanggi ini justru untuk mencari uang, bukan malah menghamburkan uang.

Kakipun berjalan mundur perlahan, menyesali kebodohan-kebodohan yang hampir saja aku lakukan. Dan rasa bangga pun muncul pada diriku, rasa bangga karena telah berhasil mengalahkan setan-setan belanja itu, rasa bangga karena kemampuan ku untuk belanja dalam waktu kurang dari 20 menit.

Aku sering bilang ke orang-orang bahwa aku tidak hobby belanja, dan sekarang aku bertanya lagi pada diriku sendiri, APA IYA…??????

Kangen Putih Abu Abu

Tadi pagi melintasi ampera menuju kemang, lewat sekolah, terlihat anak-anak sekolah menggunakan seragam putih abu-abu. Sesaat membawaku kembali ke 13 tahun yang lalu, masa-masa dimana rasa bangga itu hadir ketika mengenakan seragam putih abu-abu untuk pertama kalinya. Dan tidak dipungkiri dengan kata-kata orang sebelumnya bahwa itu adalah masa-masa terindah. Dengan pakaian seragam sekolah tingkat paling atas.

Bisa diingat, pada masa-masa itu hampir semua film indonesia mengisahkan tentang anak SMA, sebegitu bangga orang-orang dengan masa itu. Seragam itu menjadi lambang pergaulan remaja pada saat itu. Rasa bangga ketika mengenakan seragam itu.

Bandingkan dengan masa sekarang, sudah amat sangat jarang perfilman indonesia yang bergenre remaja menggunakan seragam putih abu-abu. Sinetron sekarang lebih mengincar target kuliah - keatas, contoh saja cinta fitri, film yang diperankan oleh anak belasan tahun, tapi sudah berperan sebagai seorang istri, atau kisah putri yang ditukar, pemain utama nya asih belia namun memerankan sosok seorang wanita karir.

Kebalikan dari beberapa tahun lalu, dimana dian sastro and the gank dengan bangga mengenakan seragam putih abu abu, atau mona ratuliu yang pada saat itu sudah menjadi istri dari indra brasco masih memerankan tokoh anak SMA, atau kisah rumah pondok indah, kisah anak menteng.

Apakah karena remaja sekarang yang terlalu cepat dewasa, atau kah kebanggan putih abu-abu memang sudah tidak ada.

Betapa bahagia nya masa-masa itu, masa-masa dimana tidak ada beban financial yang perlu ditanggung oleh anak-anak SMA, tapi tanggung jawab besar pun ada di pundak mereka, tanggung jawab untuk menjadi yang terbaik, tanggung jawab untuk memasuki universitas terbaik, belajar berorganisasi, belajar berdebat, penuh keceriaan, rasa lelah yang sangat bermanfaat. Dapat menikmati hasil dari setiap usaha yang kita lakukan.

Dan seiring berjalan waktu masa-masa itu pun hilang, sekarang ada beban financial, ada kebutuhan akan uang, semua yang dilakukan atas dasar uang, usaha pun belum tentu bisa menghasilkan. Butuh teknik-teknik pendekatan (read: menjilat).

Oh God, betapa aku merindukan masa-masa itu, betapa aku merindukan masa-masa putih abu-abu.

guratan guratan pena merah

Dalam hati yang bimbang

Tanganku mengayunkan pena merah

Ke atas kebawah ke kanan dan kekiri

Seolah menggambarkan hatiku yang kusut

Terciptalah guratan-guratan pena merah

Sesuatu yang kusut

Sesuatu guratan yang sangat tidak indahuntuk dilihat saat ini

Guratan-guratan pena merah yang melukiskan perasaan ku

Yang sedang kusut seperti hatiku

Yang sedang kacau seperti hariku

Persis seperti pikiran ku saat ini

Kusut, tak ada celah untuk befikir jernih

Hanya ada guratan-guratan kesedihan

Guratan-guratan kebimbangan

Tanpa kata dan tanpa makna

Bukan Materi

Ada yang lebih dari sekedar materi, yaitu kenyamanan
Kenyamanan adalah suatu kata yang tak ternilai harganya.

Didalam rumah kalau tidak nyaman, orang akan lebih memilih mengeluarkan uang untuk beristirahat di Hotel, Kost, atau di rumah kerabat.

Didalam kantor, meskipun dibayar dengan bayaran yang besar, tapi kalau tidak nyaman, tingkat turn over akan tetap tinggi, tidak sedikit karyawan yang lebih memilih keluar dari pekerjaan mereka yang membuat mereka tidak nyaman, meskipun mereka harus pindah kerja ke tempat yang tidak lebih baik dari tempat mereka sekarang.

Dan ada banyak hal lain dimana materi menjadi tidak begitu penting, ketika dibenturkan dengan kenyamanan.

Bagaimana membuat sesuatu itu menjadi nyaman adalah hal tersulit, tapi sebagai pemberi service yang baik, multak diperlukan ada nya rasa kesadaran untuk menghadirkan kenyamanan.

Begitu pula dalam beribadah, juga diperlukan kenyamanan. Siapa yang kita layani pada saat kita beribadah, tentu saja Tuhan dan diri kita sendiri. Untuk itu dala beribadah kita perlu menghadirkan rasa nyaman.

Bagaimana hal nya dengan pasangan, pasangan dengan materi berlimpah juga bukan jaminan akan kebahagiaan seseorang, tapi rasa nyaman menjadi factor utama. Ketika seseorang sudah merasa nyaman dengan pasangannya, dia akan rela untuk melakukan apa saja demi pasangannya, meskipun tanpa harta yang berlimpah.

Sama hal nya dengan liburan, liburan tidak harus pergi ke tempat-tempat mewah dan mahal, tapi mencari suatu tempat liburan yang nyaman, yang bisa mebuat kita rileks baik pada saat ataupun setelah liburan.

Masihkan anda berfikir materi diatas segalanya…???

Saya TIDAK

Friday, January 28, 2011

Some of them Write, Some of them Read

Duduk di coffee shop, sebagian orang merupakan gaya hidup, sebagian orang menganggap sebagai suatu kebutuhan. Bagi orang-orang yang memiliki hobby membaca, menulis, dan bersosialisasi biasanya menjadi kebutuhan bagi mereka untuk sekedar duduk di coffee shop sambil menikmati kopi mereka.
Kemarin, ketika selesai makan siang di kantin gue ngobrol sama temen HR gue, disitu gue cerita kalo selama kerja di perusahaan itu gue udah jarang banget melakukan kebiasaan” gue duduk” di coffee shop, baik ama temen” gue maupun sendiri, karena dulu selama di telkomsel itu gue bisa dibilang hampir tiap hari duduk di coffee shop, kalo makanan pantry lagi nggak enak, pagi udah sarapan di coffee bean biasanya sendirian, dan disana pasti ada aja orang yang gue kenal, sorenya nangkring lagi biasanya ditemenin sama temen gue. Selain hari kerja biasanya setiap sabtu minggu pasti gue udah nangkring di coffee shop di sebuah pusat perbelanjaan. Baik sendiri, ataupun bareng temen-temen.
Yang paling mengejutkan, temen gue ini bilang, kalo gue jangan terlalu memaksakan untuk mengikuti gaya hidup orang, dia bilang supaya gue untuk menjadi diri gue sendiri. Yang jadi pertanyaan gue, siapa diri gue sendiri yang dimaksud sama dia. Gue merasa ini adalah gue, karena seperti yang gue bilang tadi, duduk-duduk di coffee shop itu gue lakukan baik ada teman ataupun nggak. Dan ini udah gue lakukan sejak jaman gue kecil. Seperti yang gue bilang di blog-blog sebelumnya, bokap gue pecinta makanan enak, dan begitu juga gue. Dari kecil gue udah terbiasa duduk-duduk di tempat makan selama berjam-jam. Biasanya setiap abis bagi rapor, kalo abis ambil rapor biasanya nyokap gue selalu ajak gue jalan-jalan, Cuma karena gue nggak terlalu suka shopping kayak nyokap, jadi gue di tinggal di dunkin, dan nyokap belanja. Dan kalo selesai pulang les. Atau kalo lagi ketemuan sama bokap gue.
Jadi apa yang gue lakukan sekarang adalah kebiasaan-kebiasaan yang udah gue lakuin dari lama, agak heran kalo denger ada yang bilang kayak gitu. Lalu mungkin pertanyaan yang sama yang udah sering banget gue denger baik dari dia ataupun temen-temen gue yang lain, rata-rata mereka bertanya APA yang gue lakuin di coffee shop tersebut. Yang gue lakuin di coffee shop itu kalo gue lagi sendirian biasa nya gue nulis, atau baca, sebelum jaman laptop, gue selalu nulis di buku, kalo jaman kuliah gue duduk di coffee shop untuk belajar. Kalo udah kerja murni Cuma buat nulis, nulis, dan nulis. Sesekali gue membaca. Tapi kalo ada temen, ya ga usah ditanya apa yang gue lakuin udah pasti ngobrol sama mereka berjam-jam.
Mungkin saat ini lo bertanya ‘APA ENAKNYA’, sekali lagi masing-masing orang memiliki hobby nya masing-masing, dan buat gue hal-hal kayak gini jauh lebih menyenangkan daripada Shopping, ke salon, ke bengkel, olahraga, fitness, aerobic, yoga, dst… Sama hal nya dengan gue melihat orang-orang dating ke tempat fitness, gue juga bertanya-tanya, ‘APA ENAKNYA’. Udah bayar mahal, capek, ga abis pikir sama para pecinta fitness. Atau sama orang-orang yang doyan banget ke Salon. Semua masing-masing orang punya hobby mereka masing-masing. Begitu juga ada orang yang betah banget ngurung diri dirumah. Itu adalah hobby mereka, dan gaya hidup mereka masing-masing. Yang terbentuk dari mana mereka berasal, dan gaya hidup mereka.
Jadi kata-kata memaksakan agak aneh buat gue, mengingat dia pun bahkan mengenal gue tidak lebih dari 1 bulan, bagaimana bisa bilang itu adalah memaksakan. Orang akan melakukan apapun demi hobby nya. Gue juga kurang faham apakah ini gaya hidup atau bagaimana, mengingat kalo dibilang gaya hidup ini udah terbentuk dari gue kecil, sayang nya ternyata hal ini juga dilakukan oleh opa gue, balik lagi pertanyaan gue, apakah ini turunan atau apa… Tapi apapun itu gue sangat menikmati hal-hal seperti ini.
Beberapa datang dari mereka untuk menulis, beberapa datang untuk membaca, dan beberapa untuk bersosialisasi. Mereka datang tanpa keterpaksaan.
Mungkin ada orang-orang yang menganggap duduk di coffee shop itu bisa mengankat kelas mereka, jadi kadang ada orang-orang yang duduk di coffee shop Cuma sekedar pingin dianggap ‘ada’. Iya, mungkin terjadi kalo mereka duduk di coffee shop dan ketemu temen-temen nya, dari situ mereka bisa dianggap ‘ada’. Tapi gimana kalo dia Cuma datang sendiri ke coffee shop itu, tanpa ada 1 orang pun yang kenal dia, buat apa dia merasa pengen dianggap ‘ada’. Karena kalo orang tersebut bukan jiwanya disana, dipaksakan seperti apapun mereka tidak akan betah untuk duduk berlama-lama disana, mereka akan bingung apa yang harus dilakukakan, mereka tidak akan menemukan kenikmatan dari ritual itu.
Sama hal nya seperti orang sembahyang, kalo mereka hanya sembahyang untuk dianggap alim, mana mungkin mereka mau sembahyang tanpa ada yang melihat, tapi kalo sembahyang itu adalah panggilan dari jiwa mereka, ada kesadaran penuh dari diri mereka, maka apapun itu baik dilihat ataupun tidak sama orang lain, mereka akan tetap sembahyang.
1 lagi, gue juga ngerasa aneh kalo dibilang duduk di coffee shop bisa dibilang sebagai eksmud, bisa menaikan strata. OMG, gue Cuma bisa bilang, masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk tampil sebagai eksmud, dan untuk menaikan strata.karena orang yang duduk di coffee shop terutama pada hari libur, bisa dibilang udah nggak terlihat mana eksmud mana bukan, sebagian juga banyak anak-anak kuliahan, anak sekolah. Menaikan Strata, hmm ini yang lebih aneh lagi, sama sekali nggak ada sinkronisasinya. Mengingat coffee shop itu jauh lebih murah dibandingkan jalan-jalan keliling mall. Yang pastinya kalo orang jalan keliling mall, selain kaki capek pasti uang yang dikeluarkan lebih dari Rp. 50.000,- untuk sekali keliling mall. Tapi ketika kita duduk di coffee shop, dengan Rp.50.000,- kita bisa duduk berjam-jam, mengasah kreativitas, dan menikmati minuman terlezat didunia, hmm yeah coffee.
Ditambah lagi para gamers, yang sekarang udah mulai turut meramaikan coffee shop itu sendiri. Jadi sebetulnya siapa yang berpandangan sempit. Hmm mungkin tidak ada, ini hanya masalah persepsi.
Jujur, gue yakin banget hobby gue menulis ini tidak lain dan tidak bukan, adalah karena keterbatasan gue dalam berbicara, biasanya gue lebih terbuka melalui tulisan daripada ucapan, gue lebih jujur didalam tulisan-tulisan gue. Karena ketika udah face to face biasanya gue hanya selalu ‘menyenangkan orang lain’. Gue tidak terbiasa mengkritik seseorang secara langsung, tidak biasa mengkomentari sesuatu secara langsung, mengeluarkan apa yang gue rasakan secara lisan.
Sebel, marah, sedih, kangen, sayang, kecewa, bahagia, semua biasanya gue ungkapkan melalui tulisan. Dan gue nggak heran, mengingat gue terbiasa menulis buku harian dari gue SD, dan gue lebih nggak heran lagi, karena opa gue juga melakukan hal yang sama. Opa gue punya hobby menulis buku harian. Jadi jangan heran kalo lo masuk kamar gue dan lo akan melihat jumlah buku bacaan dengan buku harian gue lebih banyak buku harian gue.
Sekali lagi coffee shop adalah prasarana dari hobby gue. Tidak ada yang memaksa dan tidak ada yang merasa terpaksa. Gue sangat terbantu dengan ada nya coffee shop, gue bisa punya ‘me time’ khusus untuk menulis menulis dan menulis. Ada yang datang untuk membaca, ada juga yang datang untuk menulis. Dan gue adalah orang yang datang untuk menulis.

Sekian, terima kasih.
Wassalam.