Wednesday, December 28, 2011

FATAMORGANA

Ketika aku melangkah, kulihat di kiriku pohon yang kering, tak berdaun, pohon yang hanya tinggal menunggu mati.

Ku langkah kan kaki lagi, panas itu menembus kaki ku. Kering benar-benar tidak ada air, tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Kualihkan pandangan ku ke kanan jalan, tidak ada yang tersisa selain tulang belulang entah hewan atau manusia, aku tak berani mencari tahu. Yang aku perdulikan hanya bagaimana aku menemukan kehidupan.

Di tengah teriknya matahari, dan panas yang membakar tubuhku, aku masih bisa melihat di depan sana ada kehidupan. Ya masih ada harapan, aku berjalan, tertatih-tatih mempercepat langkahku, tapi ketika ku sampai disana tidak ada air, tidak ada kehidupan, semua masih kering, sama seperti sebelumnya, aku melihat lagi ke depan, seperti nya air itu ada di depan sana, aku jalan lagi menghampiri, tapi hasilnya sama, semua itu hanya FATAMORGANA.

Tetapi, satu hal yang aku sadari, fatamorgana itu selalu memberi harapan akan kehidupan. Masih ada harapan, masih ada. Walaupun kemungkinan nya sangat kecil, tapi HARAPAN ITU MASIH ADA.

Tuesday, December 27, 2011

Keberanian yang Tertunda

06.30 Berangkat dari rumah

07.30 Sampe kantor (kepagian, secara jam kantor saya dimulai dari jam 10.00)

Hmm jadi kepikiran buat cabut gigi, sebenernya niat sih udah dari hari Jumat buat cabut geraham belakang, tapi keberanian dan kesempatan itu belum ada, lagi-lagi untuk urusan pekerjaan, harus kirim titipan bos ke relasi-relasinya. Jadi mungkin hari ini adalah saat yang tepat, kebetulan bu bos juga lagi nggak ada hari ini. langsung mencegat taksi dari depan Pacific Place menuju RSCM.

Kenapa RSCM menjadi pilihan? Tentu saja karena murah, dan dokternya sabar-sabar, kurelakan lah gigi ini dijadikan bahan praktik mereka. Daripada sama dokter gigi yang udah lama, rata-rata galak-galak dan gak sabaran dalam menghadapi pasien. Mungkin mereka nggak tahu, kalo untuk ke dokter gigi itu bagi beberapa pasien sama rasanya kayak narapidana yang mau dieksekusi hukum mati. Atau kayak menghampiri kandang Singa. Masuk ruang operasi aja rasanya masih jauh lebih nyaman daripada harus ke dokter gigi, tinggal di bius, tidur bangun-bangun semua urusan udah kelar.

Kalo ke dokter gigi, harus ngeliat langsung alat-alat nggak jelas ini masuk ke mulut kita, ngoprek-ngoprek gigi kita, denger bunyi bor yang harusnya ngebor tembok. Tapi biarlah demi gigi cantik, maka nekat juga ke dokter gigi, pikiran saya saat itu, kalo nggak sekarang kapan lagi. Mumpung ada kesempatan dan ada duit juga. ^_^

08.00 Taksi burung biru itu tiba juga di depan RSCM bagian gigi dan mulut.

Setelah mengeluarkan uang Rp.20.000 (2 lembar), dan berpisah dengan burung biru itu, saya pun melangkah gontai masuk ke dalam Rumah Sakit tersebut. Untung, saya lupa masuknya dari mana.

Kebetulan rintik hujan mulai turun setetes demi setetes. Sebenarnya saat itu saya bisa saja bertanya ke pada Satpam yang melintas perihal dimana loket pendaftaran. Tapi niat itu saya urungkan, saya melangkah ke pintu keluar, dan menyetopkan Burung Biru yang lain.

Ya, sayang sekali keberanian itu menciut seketika, dambaan memiliki gigi cantik yang sehat itu juga hilang seketika terkalahkan oleh rasa takut yang sudah bertahun terpendam. Saya pun kembali menuju ke kantor lagi, dengan gigi yang masih belum di polishing selama 3 tahun.

Dan entah berapa lama lagi saya bisa memberanikan diri saya untuk ke dokter gigi lagi. Niat nya sih hari Jumat ini, karena seandainya terjadi apa-apa, saya masih punya waktu 3 hari ke depan yang mana merupakan hari libur untuk beradaptasi dengan proses pasca cabut gigi itu.

Dan semua perjalanan ke RSCM hari ini sia-sia. Saya lebih memilih kembali ke kantor, sarapan Butter Sugar Toast dan Yuan Yang Ping milik Ya Kun Kaya Toast, daripada mencabut gigi yang mungkin menyebabkan saya tidak bisa makan apa-apa hari ini.

Friday, November 25, 2011

Tidak puas dengan hasil terjemahan 'Committed' oleh Qanita Publisher

Dear Qanita Publisher,

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, mungkin hanya sedikit memberikan masukan. Kemarin saya baru saja membeli buku Committed yang terjemahan. Sebelumnya saya sudah membeli yang versi Inggrisnya pada bulan Maret. Senang sekali, karena ternyata terjemahannya keluar lebih cepat dari yang saya perkirakan. Tapi begitu saya membuka lembar demi lembar, saya sangat kecewa sekali, karena ternyata hasil terjemahannya sangat mengecewakan. Saya bahkan tidak mampu memahami kata-kata yang ada di dalam buku Committed yang versi Bahasa. Saya lebih memahami dalam versi bahasa Inggris nya.
Sepertinya, mbak Harisa Permatasari sebagai penterjemah memang tidak terlalu pandai dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Mungkin beliau memang ahli dalam Bahasa Inggris, tapi tidak dalam Bahasa Indonesia, sehingga pembaca tidak bisa menikmati kata demi kata yang ada di dalamnya. Sangat disayangkan, karena Elizabeth Gilbert sebagai penulis, telah merangkai kata yang sangat indah. Sungguh amat disayangkan, jika kata-kata itu menjadi tidak bisa dinikmati setelah diterjemahkan ke dalam bahasa. Saya seperti membaca terjemahan dari Google. Bahkan, yang dari Google sendiri lebih baik dalam menterjemahkan-nya.

Sejujurnya, saya jadi menyesal telah membeli buku Committed yang versi Indonesianya. Tapi saya beruntung, saya telah memiliki versi Inggrisnya. Setidaknya, saya masih tahu kelanjutan cerita dari Eat, Pray, Love. Saya juga sudah membaca Eat, Pray, Love baik yang versi Bahasa Indonesia, ataupun Bahasa Inggris, dan keduanya bagus. Sama-sama bisa dinikmati. Entah kenapa, yang Committed ini jadi mengecewakan. Mungkin karena beda penterjemah, untuk Eat, Pray, Love diterjemahkan oleh Mas Silamurti Nugroho. Mungkin Mbak Harisa Permatasari bisa belajar dari mas Silamurti Nugroho atau penterjemah lain bagaimana cara menterjemahkan yang baik.

Saran dari saya, mohon untuk ke depannya Qanita lebih berhati-hati dan selektif dalam mencari penterjemah. Mencari penterjemah bukan hanya penterjemah yang mampu menterjemahkan bahasa, tapi ia juga harus mampu membuat orang menikmati apa yang ia terjemahkan. Bayangkan, Elizabeth Gilbert merangkai tulisan itu dalam waktu yang tidak sebentar, sangat disayangkan ketika diterjemahkan kedalam bahasa, malah menjadi kacau dan tidak bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia.
Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.
Warm Regards,
=Lenny Ariesta=

Monday, October 24, 2011

You'll See

You think that I can't live without your love
You'll see,
You think I can't go on another day.
You think I have nothing
Without you by my side,
You'll see
Somehow, some way

You think that I can never laugh again
You'll see,
You think that you destroyed my faith in love.
You think after all you've done
I'll never find my way back home,
You'll see
Somehow, someday

Chorus:

All by myself
I don't need anyone at all
I know I'll survive
I know I'll stay alive,
All on my own
I don't need anyone this time
It will be mine
No one can take it from me
You'll see

You think that you are strong, but you are weak
You'll see,
It takes more strength to cry, admit defeat.
I have truth on my side,
You only have deceit
You'll see, somehow, someday

Chorus2:

All by myself
I don't need anyone at all
I know I'll survive
I know I'll stay alive,
I'll stand on my own
I won't need anyone this time
It will be mine
No one can take it from me
You'll see

You'll see, you'll see
You'll see, mmmm, mmmm

Friday, October 21, 2011

Sabar

Dijudesin itu asli emang nggak enak banget rasanya. Tapi haruskah menyerah hanya karena itu.

Anyway, ketika kita tahu dijudesin itu nggak enak, kita akan belajar untuk bersikap lebih baik kepada orang lain.

Dan kita juga jadi tahu, setinggi apapun jabatan orang, tidak jaminan orang tersebut faham akan etika berbicara di telp.

Dan juga akhirnya memahami, apapun yang kita rasakan akan keluar dari nada bicara kita. Lawan bicara juga akan bisa turut merasakan emosi yang kita rasakan.

Sabar dalam menghadapi segalanya, belajar dari segala kejadian. That's it. Simple, but believe me, it's not easy to do.
=LeNnY AriesTa=
Pin: 213E0B5E
Twitter: @Lennyari
http://lennyari.posterous.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Disco 2000

Well we were born within one hour of each other
Our mothers said we could be sister and brother
Your name is Deborah. Deborah. It never suited ya
And they said that when we grew up, we'd get married and never split up
We never did it although often I thought of it
Oh Deborah, do you recall
Your house was very small with wood chip on the wall
When I came around to call you didn't notice me at all
I said let's all meet up in the year 2000
Won't it be strange when we're all fully grown
Be there at 2 o'clock by the fountain down the road
I never knew that you'd get married
I would be living down here on my own
On that damp and lonely Thursday years ago

You were the first girl at school to get breasts
Martyn said that yours were the best
The boys all loved you but I was a mess
I had to watch them trying to get you undressed
We were friends but that was as far as it went
I used to walk you home sometimes but it meant
Nothing to you, cause you were so popular

Ah Deborah, do you recall
Your house was very small with woodchip on the wall
When I came around to call you didn't notice me at all
I said let's all meet up in the year 2000
Won't it be strange when we're all fully grown
Be there at 2 o'clock by the fountain down the road
I never knew that you'd get married
I would be living down here on my own
On that damp and lonely Thursday years ago

Oh yeah, oh yeah

Oh what are you doing Sunday baby
Would you like to come and meet me maybe you can even bring your baby
Ohhh ooh ooh. Ooh ooh ooh ooh
What are you doing Sunday baby
Would you like to come and meet me maybe you can even bring your baby
Ooh ooh oh. Ooh ooh ooh ooh. Ooh ooh ooh ooh. Oh.

Losing My Religion - REM

Life is bigger
It's bigger than you and you are not me
The lengths that I will go to
The distance in your eyes
Oh no, I've said too much
I set it up

That's me in the corner
That's me in the spotlight
Losing my religion
Trying to keep up with you
And I don't know if I can do it
Oh no, I've said too much

I haven't said enough
I thought that I heard you laughing
I thought that I heard you sing
I think, I thought, I saw you try

Every whisper
Of every waking hour I'm choosing my confessions
Trying to keep an eye on you
Like a hurt lost and blinded fool
Oh no, I've said too much
I set it up

Consider this
Consider this the hint of the century
Consider this
The slip that brought me to my knees failed
What if all these fantasies
Come flailing around

Now I've said too much
I thought that I heard you laughing
I thought that I heard you sing
I think, I thought, I saw you try

That was just a dream
That was just a dream

That's me in the corner
That's me in the spotlight
Losing my religion
Trying to keep up with you
And I don't know if I can do it
Oh no, I've said too much

I haven't said enough
I thought that I heard you laughing
I thought that I heard you sing
I think, I thought, I saw you try

But that was just a dream
Try try try try
That was just a dream
Just a dream